8 Tipe Klien Toksik yang Ditemui Pekerja Lepas dan Cara Menghadapinya

Kekuatan dari seorang pekerja lepas atau freelancer terletak pada keahliannya menghadapi berbagai macam tipe klien, mulai dari yang sangat profesional hingga tipe klien toksik yang perlu dihindari.

tipe klien toksik

Sumber: Eric Audras

Sebagai freelancer, tentu kamu ingin menerima klien sebanyak mungkin agar finansialmu semakin stabil. Namun, jika kamu salah memilih klien, bisa-bisa waktu dan tenagamu terbuang untuk sesuatu yang sia-sia.

Karena itulah, kamu wajib mengetahui 7 tipe klien toksik dan bagaimana cara terbaik menghadapi mereka. Jika kamu tahu tips dan triknya, tentu kamu bisa semakin gencar mengembangkan bisnis dan mengajukan jasamu ke jaringan klien yang lebih luas.

Apa saja tipe klien toksik yang bisa menghambat karirmu?

1. Klien pelit. Pelit Banget!

tipe klien toksik

Sumber: Property Genius

Tipe klien pelit terbagi menjadi dua: yang pertama adalah klien yang memiliki anggaran besar namun tidak rela memberikannya pada freelancers – karena mereka menganggap remeh kinerja freelancers – atau yang kedua adalah klien yang memang memiliki anggaran kecil, misalnya mereka adalah perusahaan baru atau rintisan.

Ciri-ciri tipe klien toksik ini adalah mereka selalu menawar harga yang kamu berikan, bahkan sampai meminta 50% potongan. Mereka juga sering mengucapkan pernyataan seperti, “Kan pekerjaannya gampang / Kan cuma desain sederhana / Kerjaan kayak gitu doang kok harganya mahal sekali?”

Nah, untuk menghadapinya, pertama-tama tariklah napas panjang dan bersabar. Kedua, dari awal kamu harus transparan memberikan rincian harga setiap proyek. Kemudian, jelaskan juga latar belakang di balik harga tersebut, misalnya karena setiap proyek membutuhkan sesi brainstorming, durasi pengerjaan yang memakan waktu, atau tambahan detail rumit yang membutuhkan biaya ekstra.

Kalau mereka tetap ngotot meminta harga yang murah, coba pertimbangkan kembali apakah ada kemungkinan untuk barter atau apakah proyek ini bisa memberikan nilai plus untuk portofoliomu? Jika ya, kamu bisa menerimanya. Tapi, jika tidak, lebih baik bersikaplah profesional dan menolak dengan halus permintaan mereka. Tipe klien toksik yang pelit ini bisa mengacaukan neraca finansialmu, lho!

2. Nggak pelit, tapi oportunis

tipe klien toksik

Sumber: Eric Audras

Awalnya kamu menyetujui akan mendesain logo perusahaan, tapi dalam prosesnya si klien tiba-tiba menambah beban pekerjaan tanpa basa basi. Biasanya mereka sering menggunakan alasan seperti. “Oh ya waktu itu lupa dibahas / Sekalian aja ya dibuatkan desain brosurnya / Ada tambahan sedikit yaitu desain website, tolong dikerjakan ya!”

Wah, tipe klien toksik yang oportunis ini lihai bermain kata-kata sehingga kamu sering nggak sadar bahwa beban pekerjaanmu bertambah jauh dari perjanjian di awal. Untuk menghadapinya, selalu berpatokanlah dengan scope of work atau kerangka kerja yang sudah disetujui. Untuk setiap jasa ekstra yang klien minta, tegaskan kembali bahwa akan ada biaya tambahan. Ini penting agar klien tipe oportunis tidak memeras habis tenaga dan waktumu untuk kepentingan pribadi mereka.

3. Klien pemimpi

Kalau kamu sudah lama melanglang buana menjadi freelancer, pasti sering bertemu dengan tipe klien toksik yang mimpinya muluk-muluk. Bagaimana tidak? Mereka sering kali memasang anggaran yang sangat kecil tapi meminta hasil yang luar biasa. Seringkali mereka mengatakan, “Tiru konsep proyek ABCD itu ya, tapi disesuaikan dengan budget kita.”

Rasanya pasti pusing sekaligus sebal menghadapi klien yang tidak realistis ini. Untuk itu, kamu harus jeli menjelaskan pada mereka tentang komponen biaya yang diperlukan untuk mewujudkan ide yang mereka mau. Ketika mereka menunjukkan proyek lain sebagai referensi, tegaskan bahwa anggaran mereka tidak cukup. Ini penting untuk membuat mereka mengerti konsep “ada harga, ada barang”. Tentunya, semakin tinggi biaya proyek, semakin menarik konsep yang bisa mereka wujudkan.

4. Klien plin-plan

tipe klien toksik

Sumber: Jose Luiz Pelaez

Tipe klien toksik berikutnya adalah klien plin-plan yang seringkali tidak memiliki gambaran pasti tentang apa yang mereka inginkan. Ketika kamu menunjukkan draft pekerjaan, mereka lalu memutuskan untuk berganti haluan dan memintamu untuk mengerjakan lagi dari awal!

Kamu akan sering mendengar alasan seperti, “Kayaknya nggak cocok, boleh nggak diganti menjadi seperti ini? / Kami minta tolong dibuatkan lagi dengan konsep baru ini ya!”

Jika terjadi berulang kali, tipe klien toksik ini bisa membuat tenaga dan waktumu habis mengurusi satu proyek saja. Oleh karena itu, kamu harus tegas dan memastikan mereka memiliki gambaran konsep yang jelas di pertemuan awal. Kalau mereka memberikan brief yang sangat ambigu seperti “kelihatan keren / elegan / menarik”, minta mereka menjelaskan kriteria dari penilaian tersebut.
Dengan begitu, ketika mereka plin-plan dan meminta perubahan drastis, kamu bisa menegaskan bahwa pekerjaanmu sudah sesuai dengan brief awal yang diberikan.

5. Klien posesif

tipe klien toksik

Sumber: Peter Dazeley

Klien menelpon setiap dua jam sekali? Setiap hari meminta laporan progress padahal deadline yang ditentukan masih jauh? Atau klien sering menelpon di luar jam kantor bahkan hingga larut malam dan di hari libur? Berarti kamu sedang berhadapan dengan tipe klien toksik yang posesif dan demanding.

Bukan cuma memberikan tenggat waktu yang nggak masuk akal, mereka juga tidak peduli dengan kehidupan personal kamu. Sering kamu mendengar, “Hey, saya butuh draft-nya sekarang, tolong dikirim segera ya!” atau klien menelponmu di saat weekend dan tengah malam hanya untuk meminta revisi salinan desain.

Sebagai seorang freelancer, tentu waktu kerjamu lebih fleksibel dibandingkan pegawai kantoran. Tapi, bukan berarti waktu personalmu harus diganggu non-stop oleh klien toksik. Untuk menghadapinya, tegaskanlah waktu kerja yang kamu sepakati, misalnya jam berapa kamu bisa menerima telpon berkaitan dengan pekerjaan.

Di luar jam profesional tersebut, sampaikan pada klien bahwa kamu memilih tidak diganggu kecuali untuk hal yang krusial. Jikalau mereka tetap menelpon, kamu memiliki hak untuk mengabaikan atau menegur mereka agar bersikap profesional.

Selain itu, jangan lupa juga untuk menetapkan timeline proyek, sehingga kamu dan klien tahu kapan proyek harus diselesaikan, tanpa perlu mereka menelponmu setiap dua jam sekali.

6. Klien sibuk dan nggak punya waktu untukmu

tipe klien toksik

Sumber: She Knows

Berkebalikan dari klien posesif, tipe klien toksik berikutnya justru akan “hilang” dari peredaran karena mereka sangat sibuk. Begitu sibuknya, mereka susah diajak bertemu ataupun dikontak untuk menanyakan hal-hal yang penting. Walaupun tidak terlalu menyebalkan seperti klien posesif, namun klien super sibuk ini juga menghambatmu untuk menyelesaikan proyek secara tepat waktu. Kadang kamu harus menunggu hingga berhari-hari hanya untuk mendapatkan feedback mereka.

Solusinya, kamu harus membuat perjanjian timeline yang jelas dengan klien tipe ini. Misalnya, buatlah satu poin dimana mereka harus memberikan feedback revisi paling lambat dua hari setelah kamu mengirimkannya, sehingga keseluruhan proyek bisa berjalan lancar dan tepat waktu. Sebelum atau setelah mengirimkan email apapun, usahakan untuk mengontak dan mengingatkan mereka untuk mengeceknya, sehingga mereka tidak kelupaan.

Kalau klien sibuk ini tetap membandel, cobalah mencari alternatif kontak untuk mendapatkan nama lain yang bisa mengambil keputusan, sehingga kamu tidak tergantung pada satu orang saja.

7. Klien kolot

tipe klien toksik

Sumber: Thomas Barwick

Di zaman yang serba mudah ini, pasti kamu sangat mengandalkan teknologi untuk memastikan bahwa semua proyek bisnismu berjalan lancar. Namun, ada tipe klien toksik nan kolot yang belum terlalu mengikuti perkembangan zaman. Akibatnya, komunikasi menjadi susah karena mereka tidak tahu cara mengoperasikan Google Drive atau software berbagi files seperti Dropbox.

Selain itu, ketika kamu memberikan referensi dari film-film terbaru, mereka juga tidak mengerti karena tidak mengikuti tren. Namun sebenarnya tidak apa-apa bila mereka tetap ingin terbuka dan mempelajari tren terbaru. Bila sebaliknya kamu yang dipaksa untuk mengikuti standar dan prosedur mereka yang notabene agak terbelakang, maka klien seperti ini perlu dihindari.

Nah, tipe klien ini juga berbahaya karena kamu bisa berkonflik karena perbedaan selera yang drastis. Untuk mencegahnya, kamu bisa mendukung semua argumentasimu dengan data. Misalnya, apabila kamu hendak membuat desain infografis, coba tunjukkan mengapa infografis kini lebih digemari dibandingkan tampilan data biasa.

Bisa juga ketika kamu hendak mengutip film, musik, atau tren terbaru, sampaikanlah dengan santai dan kasual bahwa hal tersebut sangat disukai pasar. Jika disampaikan dengan canda dan percakapan santai, si klien tentu akan lebih mudah menerimanya dan tidak keras kepala.

Untuk permasalahan teknologi, kamu bisa menyesuaikan dengan metode yang mereka inginkan. Atau, carilah jalan tengah dengan menggunakan metode yang cukup simple dioperasikan sehingga klien pun bisa mendapatkan hasil kerjamu dengan mudah.

8. Klien keras kepala

tipe klien toksik

Sumber: The Onion

Tipe klien toksik yang akan sering kamu temui adalah klien keras kepala. Tentu kamu memahami bahwa klien berhak membuat keputusan, sementara kamu mengerjakan sesuai dengan brief yang mereka berikan. Namun, akan selalu ada tipe klien toksik yang memaksakan kehendak dan selera pribadinya ke dalam proyek tersebut.

Misalnya, ketika kamu memberikan desain yang elegan sesuai brief, mereka ingin menambahkan elemen-elemen baru agar terlihat “lucu”, sesuai dengan kesukaan mereka pribadi. Atau ketika kamu memilih warna tertentu, mereka memaksakan untuk mengubahnya sesuai selera pribadi mereka. Hati-hati dengan tipe klien ini karena mereka bisa menurunkan standar kerjamu dan mencampurkan selera personal ke dalam karya profesional.

Untuk itu, kamu bisa mengatasinya dengan selalu berkoordinasi dengan lebih dari satu orang. Ini penting untuk memastikan penilaian yang obyektif dan sesuai dengan brief perusahaan, bukan penilaian subyektif. Dengan begitu, kamu pun bisa bekerja dengan lebih lancar dan terhindar dari intervensi-intervensi yang tidak perlu.


Nah freelancers, itu tadi adalah 8 tipe klien toksik yang mungkin akan kamu jumpai, serta bagaimana cara terbaik untuk menghadapi mereka. Tentunya tidak semua klien menyebalkan, ada banyak sekali klien yang baik dan profesional. Namun, tidak bisa dipungkiri, sebagai freelancers kamu harus ahli mengatasi berbagai tipe klien supaya karirmu bisa semakin cemerlang.

Kalau sudah mempelajari tipe-tipe klien, sekarang kamu siap untuk belajar lebih lanjut tentang cara menggaet klien atau kesalahan umum ketika bertemu klien.

Tunggu pembahasan lebih lanjut lainnya tentang tips menulis untuk freelancers di Blog C2live, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *