Kisah Penulis: Secangkir Kopi dan Segenggam Inspirasi dari Kota Yogyakarta

Mengingat pengalaman traveling ke Yogyakarta silam, sebuah quote terngiang di pikiranku:

“Yogyakarta, Kota Pelajar yang kaya akan budaya.”

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, Ibu Guru selalu berkata demikian. Yogyakarta selalu dicitrakan sebagai sebuah kota yang sangat indah, tempat impian dimana orang-orang ingin menghabiskan masa tua di sana.

traveling ke yogyakarta

Sumber Gambar: devinchoa

Tidak jarang pula, sehabis masa-masa libur sekolah, ada satu atau dua teman yang menceritakan pengalaman traveling ke Yogyakarta. Mengunjungi Candi Borobudur adalah cerita andalan mereka (padahal Candi Borobudur terletak di Jawa Tengah. Kamu liburan ke Yogyakarta atau ke Jawa Tengah sih…). Disusul dengan pameran gantungan kunci dan kaos “Malioboro” yang mereka beli di Pasar Malioboro.

“Yogyakarta menjadi destinasi wajib semua masyarakat Indonesia, ya,” gumam ku dalam benak saat itu.

Setelah penantian bertahun-tahun lamanya, akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kota ini. Menuntut ilmu di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kota Semarang yang hanya berjarak 2 jam 50 menit dari Yogyakarta, menjadikan kota ini sebagai tempat pelarian dari rutinitas dan tekanan. Hampir setiap bulan aku bersama rekan-rekan traveling ke Yogyakarta hanya sekadar untuk menikmati nasi kucing dan kembali ke Semarang saat fajar menjelang.

traveling ke yogyakarta

Sumber Gambar: daftarwisatajogja

Tak pernah tersebut kata “tidak” ketika rekan-rekan mengajakku mengunjungi Yogyakarta untuk kesekian kalinya.

Sampai pada akhirnya aku mengunjungi kota Yogyakarta untuk alasan berbeda: berburu kopi. Sebagai seorang penggemar kafein yang senang mengunjungi coffee shop, bukanlah Malioboro atau pun alun-alun kidul yang menjadi tujuan, tapi coffee shop.

Coffee Shop yang ku kunjungi ini cukup unik. Berlokasi di daerah perkotaan, namun berada di pinggir sawah, bersampingan dengan kuburan. Di depannya ada galeri seni milik sang empunya. Sudah 3 jam aku menanti, menanti para barista siap dengan segala peralatannya. Berkat bulan suci Ramadhan, jam operasionalnya pun berubah menjadi lebih sore menjelang berbuka puasa.

Traveling ke Yogyakarta

traveling ke yogyakarta

Sumber Gambar: devinchoa

Sembari menunggu, aku duduk mengamati tulisan dan lukisan di sekeliling bangunan berbentuk joglo khas Yogyakarta itu. “Mas, maaf yah bikin nunggu lama. Ini aku bikinin duluan aja. Masnya mau yang mana? Pake alat apa?” Seorang perempuan berusia lebih tua dari ku (pada saat itu aku berusia 20 tahun), memecahkan keheningan. “Santai mba, ntar pas udah siap aja.” jawabku sembari memamerkan senyumku (tidak akan berhasil mempesona si barista itu, aku yakin).

Selang beberapa saat, apa yang ku nanti pun tiba. Secangkir kopi biji Arabika asal Kerinci.
“Buat masnya yang jauh-jauh dari Semarang. Biji ini belum ada di menu. Dan kayanya ga akan ada di menu,” dengan penuh cinta sang barista berkata.

Sebut saja dirinya Michelle (aku tahu nama aslinya tapi atas alasan privasi, kita pake nama samaran aja ya). Michelle menghampiriku yang duduk sendiri, ditemani segulung tembakau pabrikan Kudus, sembari menyelesaikan pekerjaan (hehe freelance ya gini, liburan sambil gawe).

traveling ke yogyakarta

Sumber Gambar: Javafoodie

Michelle menyapa dan meminta izin untuk duduk di mejaku. Tentu saja, siapa yang bisa menolak perempuan se-eksotis dirinya, ditambah kepiawaiannya dalam meracik kopi.

Secangkir pertanyaan dilemparkannya padaku, aku jawab dengan penuh kejujuran. Toko yang masih sepi, menjadikan suasana latar semakin syahdu, ditemani senja yang baru tiba, langit berwarna jingga menjadi penerawang.

Kami berbicara tentang kopi, pekerjaan, dan cita-cita. Michelle telah berprofesi sebagai barista selama 5 tahun. Sebelumnya ia pernah bekerja untuk lembaga keuangan, tempat ayahnya bekerja.

“Devin, tau ga sih kopi itu bisa bikin bahagia?”

Pertanyaan ini terasa sangat emosional. Dari membahas teknis pengolahan kopi dan bagaimana bisnis retail ini berjalan, ia melemparkan pertanyaan ini? Sungguh?

traveling ke yogyakarta

Sumber Gambar: filosofikopi via Instagram

“Bayangin aja deh. Kamu ga perlu menggantungkan kebahagiaan sama orang lain. Secangkir kopi, dan mood kamu 200 persen lebih baik!” ucapnya dengan ceria.

Aku masih tidak paham dengan maksud kalimat ini. Aku suka menghirup aroma kopi, tapi meningkatkan mood 200 persen? Michelle, kamu butuh argumentasi scientific untuk meyakinkan aku si manusia skeptis ini.

“Maksud aku, kebahagiaan itu kamu yang mendefinisikan. Sederhana atau rumit untuk mencapai titik bahagia, itu kamu yang menentukan. Aku seneng bisa nyicipin kopi dan digaji. Kamu seneng ngopi sambil jalan-jalan. Kita itu orang yang paling bahagia di dunia. Ga mahal buat bahagia.

Baca juga: Datangi 10 Cafe Asik Ini Untuk Kegiatan Freelance yang Produktif

Aku membisu. Rasanya ada yang menusuk dan merobek dadaku. Selama ini, aku mendefinisikan kebahagiaan dengan jumlah nominal yang ada di tabunganku. Bekerja lupa waktu, hingga aku melupakan bahwa aku sedang “menikmati kebahagiaan” di sela-sela rutinitas dan produktivitas. Secangkir kopi yang selama ini kuseruput, tidak hanya berakhir di closet, tapi menjadikan usia di bumi lebih bermakna. Harga tiket pesawat yang ku bayarkan dengan keringat dan waktu tidurku ternyata tidak semahal dengan semua pengalaman yang Yogyakarta berikan padaku. Terimakasih, Yogyakarta. Terlebih lagi, Terimakasih, Michelle.

“Sulit mudahnya untuk bahagia, kamu sendiri yang mendefinisikan.”

Karena secangkir kopi dan traveling ke Yogyakarta, aku menemukan definisi bahagiaku.

Rasanya, ingin aku kembali traveling ke Yogyakarta hanya untuk secangkir kopi. Rutinitas di Jakarta mulai membuatku merasa jenuh. Memantau harga tiket pesawat, ku rasa aku akan berkunjung kembali ke Yogyakarta di penghujung tahun. Harga tiket pesawatku tidak semahal dengan pengalaman yang ku dapatkan di sana. Ditambah dengan fitur canggih Skyscanner yang membandingkan harga tiket dengan ratusan situs penjual tiket pesawat, harga tiket pesawat yang termurah pasti bisa ku dapat. Terlebih lagi, aku bisa mencari bulan termurah untuk tiket pesawat idaman melalui Skyscanner, sehingga bisa ku jadwalkan cuti kerja untuk kembali ke Yogyakarta.

Karena definisi bahagiaku bukan lagi jumlah nominal yang ada di tabunganku, tapi secangkir kopi dan segenggam inspirasi! Sampai jumpa, Michelle!

8 thoughts on “Kisah Penulis: Secangkir Kopi dan Segenggam Inspirasi dari Kota Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *